A.Dampak Fisik Pertambangan Freeport
Kegiatan
Pertambangan yang dilakukan oleh Freeport telah menimbulkan dampak fisik,
diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Tembaga
yang dihamburkan dan pencemaran
Pengerukan dan pembuangan dilakukan tanpa pengolahan yang bersifat
penghamburan tembaga dan pencemaran lingkungan. Lebih dari 3 miliar ton tailing
dan lebih dari empat miliar ton limbah batuan akan dihasilkan dari operasi
Freeport sampai penutupan pada tahun 2041. Secara keseluruhan,
Freeport-Rio Tinto menyia-nyiakan 53.000 ton tembaga per tahun, yang
dibuang ke sungai sebagai Air Asam Batuan (Acid
Rock Drainage, ARD) dalam bentuk buangan (leachate) dan tailing. Tingkat pencemaran logam berat semacam ini
sejuta kali lebih buruk dibanding yang bisa dicapai oleh standar
praktik pencegahan pencemaran industri tambang.
2. Air
Asam Batuan (Acid Rock Drainage)
Hampir semua limbah batuan dari tambang Grasberg berpotensi membentuk
asam. Limbah batuan ini dibuang ke sejumlah tempat di sekitar Grasberg dan
menghasilkan ARD dengan tingkat keasaman tinggi mencapai rata-rata pH = 3.
Kandungan tembaga pada batuan rata-rata 4.500 gram per ton (g/t) dan
eksperimen menunjukkan bahwa sekitar 80% tembaga ini akan terbuang (leach)
dalam beberapa tahun.
3. Tingkat
racun tailing dan dampak terhadap perairan
Sebagian besar kehidupan air tawar telah hancur akibat pencemaran dan
perusakan habitat sepanjang daerah aliran sungai yang dimasuki tailing. Total
Padatan Tersuspensi (TSS) dari tailing secara langsung berbahaya
bagi insang dan telur ikan, serta organisme pemangsa, organisme yang
membutuhkan sinar matahari (photosynthetic),
dan organisme yang menyaring makanannya (filter
feeding).
4. Logam
berat pada tanaman dan satwa liar
Tailing Freeport mengandung tingkat racun logam selenium (Se), timbal
(Pb), arsenik (As), seng (Zn), mangan (Mn) dan tembaga (Cu) yang secara signifikan
lebih tinggi. Konsentrasi dari beberapa jenis logam tersebut yang
ditemukan dalam tailing melampaui acuan US EPA dan pemerintah Australia dan
juga ambang batas ilmiah phytotoxicity. Hal ini menunjukkan kemungkinan
timbulnya dampak racun pada pertumbuhan tanaman.
Pengujian dan pengambilan sampel lapangan menunjukkan bahwa tanaman
yang tumbuh di tailing mengalami penumpukan logam berat pada jaringan (tissue), menimbulkan bahaya pada mahluk
hutan yang memakannya. Semua spesies hewan disekitar Freeport terkena
dipastikan terkena racun yang berasal dari logam
5. Perusakan
habitat muara
Tailing sungai Freeport-Rio Tinto akan merusak hutan bakau seluas 21
sampai 63 km2 akibat sedimentasi. Kanal-kanal muara sudah tersumbat tailing dan
dengan cepat menjadi sempit dan dangkal. Kekeruhan air muara pun telah jauh
melampaui standar yang diterapkan di Australia, sehingga menghambat proses
fotosintesa perairan.
6. Kontaminasi
pada rantai makanan di muara
Logam dari tailing menyebabkan kontaminasi pada rantai makanan di Muara
Ajkwa. Daerah yang dimasuki tailing Freeport menunjukkan kandungan logam
berbahaya yang secara signifikan lebih tinggi dibanding dengan muara-muara
terdekat yang tak terkena dampak dan dijadikan acuan. Logam berbahaya tersebut
adalah tembaga, arsenik, mangan, timbal, perak dan seng. Satwa liar di daerah
hutan bakau terpapar logam berat karena mereka makan tanaman dan hewan tak
bertulang belakang yang menyerap logam berat dari endapan tailing, terutama
tembaga.
7. Gangguan
ekologi
Adanya pengendapan tailing maka ekosistem yang berfungsi dan beraneka
ragam dengan ikan dan udang yang melimpah berbanding terbalik dengan kenyataan
bahwa bagian luar Muara Ajkwa, termasuk daerah pantai Laut Arafura, mengalami
penurunan jumlah hewan yang hidup dasar laut (bottom-dwelling animals) sebesar 40% hingga 70%.
8. Dampak
pada Taman Nasional Lorenz
Taman Nasional Lorenz yang terdaftar sebagai warisan dunia, wilayahnya
mengelilingi daerah konsesi Freeport. Untuk melayani kepentingan tambang,
luas taman nasional telah dikurangi. Kawasan pinus pada situs Warisan Dunia ini
terkena dampak air tanah yang sudah tercemar buangan limbah batuan yang
mengandung asam dan tembaga dari tailing Freeport-Rio Tinto.
9. Regenerasi
di Daerah Tumpukan Tailing
Tailing tambang pada akhirnya akan meliputi 230 km2 DAS Ajkwa, pada kedalaman hingga 17
meter. Daerah tailing ini kekurangan karbon organik dan gizi kunci
lainnya, dengan kapasitas menahan air yang sangat buruk. Kawasan DAS Ajkwa yang
luas yang telah mengalami kematian tumbuhan akibat tailing tidak akan pernah
bisa kembali ke komposisi semula meski pembuangan tailing berhenti.
10. Transparansi
Terlepas dari keharusan legal untuk menyediakan akses publik terhadap
informasi terkait lingkungan, perusahaan belum pernah mengumumkan
dokumen-dokumen pentingnya. Freeport-Rio Tinto juga tak pernah mengumumkan
laporan audit eksternal independen sejak 1999. Dengan demikian perusahaan melanggar
persyaratan ijin lingkungan.
Pertambangan Freeport
menimbulkan dampak sosial dan budaya. Hal ini dapat dilihat dari sisi
kependudukannya. Pemukiman penduduk semakin tersingkir dan menjadi perkampungan kumuh di tengah-tengah kawasan Industri tambang termegah di
Asia. Dengan demikian perkembangan tambang di tengah-tengah suku Amungme dan Kamoro ini bukannya mendatangkan kehidupan
yang lebih baik, melainkan semakin menyudutkan mereka menjadi kelompok marginal. Hal ini semakin terdorong oleh semakin besarnya arus urbanisasi ke Timika dari daerah-daerah sekitarnya dan dari pulau lain di Indonesia. Dimana kehidupan homogen dimasa lalu seketika menghadapi tantangan dari luar dengan hadirnya berbagai suku dan bangsa yang masuk wilayah adat suku Amungme dan Kamoro.
Persoalan lain yang paling mendasar bagi masyarakat adat Amungme maupun masyarakat adat Kamoro adalah perlunya pengakuan kepada mereka sebagai Manusia di atas tanah mereka sendiri.
Persoalan martabat manusia harus dihargai oleh
siapapun. Kalau martabat suku Amungme dan suku Kamoro dihargai sebagai manusia, makapersolan PT. Freeport harus diselesaikan dengan melibatkan kedua suku tersebut sebagai masyarakat adat pemilik sumber daya alam tambang tersebut.
Meski di tanah leluhurnya terdapat tambang emas terbesar di
dunia, orang Papua khususnya mereka yang tinggal di Mimika, Paniai, dan Puncak Jaya pada tahun hanya mendapat rangking Indeks
Pembangunan Manusia ke 212 dari
300an lebih kabupaten di
Indonesia. Hampir 70% penduduknya tidak mendapatkan akses terhadap air
yang aman, dan 35.2% penduduknya tidak memiliki akses terhadap fasilitas kesehatan.
Selainitu, lebihdari 25% balita juga tetap memiliki potensi kurang gizi.
Dampak lain dari kehadiran Freeport di Indonesia adalah terjadinya berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), sebagai akibat protes masyarakat terhadap
Freeport yang terkesan tidak memperhatikan kesejahteraan masyarakat Adat Suku Amungme dan Komoro yang disebut sebagai pemilik tanah, emas, tembaga, hutan yang kemudian dikuasai oleh pihak perusahaan.
Dalam aksi protes, masyarakat selalu berhadapan dengan pihak aparat keamanan
(TNI/POLRI), yang bertugas mengamankan Perusahaan, maka terjadilah pelanggaran Hak Asasi Manusia. Kasus pelanggaran
HAM di wilayah penambangan berlangsung cukup lama
sejak hadirnya
Freeport hingga kini.
Dari data BPS, Jumlah orang miskin di tiga kabupaten tersebut,
mencapai lebih dari 50% total penduduk. Artinya, pemerataan kesejahteraan tidak terjadi. Meskipun pengangguran terbuka rendah, tetapi secara keseluruhan pendapatan masyarakat setempat mengalami kesenjangan.
Bisa jadi kesenjangan
yang muncul antara para
pendatang dan penduduk asli yang
tidak mampu bersaing di tanahnya sendiri. Bisa jadi pula,
angka presentase
yang menunjukkan kemiskinan,
seperti akses terhadap air bersih, kurang gizi, akses terhadap sarana kesehatan mengandung bias rasisme. Artinya, kemiskinan dihadapi oleh penduduk asli dan bukan pendatang.
Sedangkan dampak sosial dari pembuangan tailing kesungai Aikwa terhadap kedua suku tersebut maupun suku-suku lain dari Papua, dapat terlihat dekat dengan mata dimana kota Timika yang dulunya banyak dusun sagu yang memberi makan bagi masyarakat adat Kamoro, dan suku-suku
lain dari Papua maupun Indonesia yang tinggal di kota Timika telah rusak. Akibatnya masyarakat tidak bisa mendapatkan sagu sebagai sumber makanan pokok mereka, disamping itu berkembang pesatnya pembangunan
yang didukung oleh
Freeport membuat suku Amungme dan Kamoro menjadi minoritas di atas tanahnya sendiri. Dengan peralatan sederhana, mereka, baik pendatang maupun masyarakat local, berani mempertaruhkan nasib,
bahkan nyawa, demi
mencari konsentrat emas. Kebetulan, metode penambangan oleh Freeport memang tidak bisa 100% menangkap konsentrat emas yang ada dalam bijih.
PT. Freeport Indonesia yang
bergerak di bidang pertambangan memberikan manfaat ekonomi langsung dan tidak
langsung yang cukup besar bagi pemerintah di tingkat pusat, provinsi maupun
kabupaten, dan bagi perekonomian Papua dan Indonesia secara keseluruhan. Manfaat
langsung termasuk kontribusinya suatu perusahaan kepada negara, mencakup pajak,
royalti, dividen, iuran dan dukungan langsung lainnya. Kami merupakan penyedia
lapangan kerja swasta terbesar di Papua, dan termasuk salah satu wajib pajak
terbesar di Indonesia.
Laba Freeport
naik sekitar 16 persen pada kuartal keempat tahun lalu menjadi USD 743 juta (Rp
7,2 triliun). Total pendapatan juga meningkat menjadi USD 4,51 miliar dari USD
4,16 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar